Jumat, 01 April 2016

AKU MENGIRA || Puisi Patah Hati

Sebelumnya, aku mengira aku adalah orang yang spesial untuknya.
Tapi ternyata, aku salah satu dari mereka mereka yang menganggap diri istimewa padahal biasa biasa saja di matanya.

Aku mengira sudah berada di dalam hatinya, tapi ternyata ku tersadar bahwa aku masih di luar bersama mereka yang berfikiran sama seperti apa yang aku rasa.

Aku mengira kalau aku sudah menjadi bagian dari orang yang selalu ia pikirkan, tapi ternyata terlintaspun rasanya tak pernah ia hiraukan.

Aku mengira mimpi indahnya adalah aku, tapi ternyata di mimpi buruknya pun, aku tak pernah muncul.

Aku mengira aku bagian dari tokoh utama untuk cerita masa depannya, tapi apa daya lolos castingpun aku tak bisa.

Teringat kata yang setiap hari kau dan aku ucapkan sebagai pengganti kata aku dan kamu. Aku akan tetap menggunakannya tapi Kata tersebut mungkin maknanya tak lagi sama, tak sebahagia dulu saat aku begitu lugu, menyimpulkan kata untuk sebuah rasa.

Tersenyum aku menulis tulisan ini, walau senyumku tak menentu, karna bibirku masih berduka akan hatiku yang kecewa.

Aku tak kecewa denganmu, tapi aku kecewa dengan harapanku. Karena Harapanku aku letakan di dahan pohon kecil, saat ingin ku ambil sekarang, aku tak bisa karena pohonnya sudah besar menjulang.